Coretan Awanbyru: Bebas
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan

September 21, 2025

Serat Antaboga

Minggu, September 21, 2025 0
Serat Antaboga
Ratu linuwih mung wening ati sejati,  
tan tanpa daya,  
yen lali marang titahu,  
Antaboga mangan makuto ilang tahta.  

Swara sesanti ngliwati langit suwung,  
ora geguyon ana,  
yen titah dilarani ku,  
sapa nglanggar kasirna sirna tan kuasa.  

Ratu tan welas kothong dampar kang suci,  
wayang tanpa dalang,  
tanpa nyawa kang nyawiji,  
pangrebut kuasa tiba dadi reregeta.  

Naga ngidham getih nyusup jero bumi,  
ngenteni tumiba,  
ratu lali pangayomu,  
makuto dilepeh dadi rereged donya.  

Titah ngendika lumantar angin suci,  
kawulo manembah,  
sapa ngiyanati iku,  
sirna kadya mega kapethuk surya purna.  

Makuto wus wuda ora kagungan drajat,  
tanpa panguwasa,  
yen dhasar ora linuwih,  
mung dadi guyonan sang kala tanpa rasa.  

Aruming jagad bali marang kawicaksanan,  
titah dadi saksi,  
yen sapa lali janji nu,  
Antaboga rawuh nguntal tanpa pamrih murni.  





April 30, 2025

A Skyward Stair of Words

Rabu, April 30, 2025 0
A Skyward Stair of Words
Di awal mula, dunia adalah bisu.

Bukan karena tak ada suara, melainkan karena tak ada makna. Angin bertiup, tetapi tak ada yang mencatat arahnya. Langit membentang, tetapi tak seorang pun bertanya mengapa ia begitu setia bergantung di atas kepala. Kita hidup di antara peristiwa, namun tak ada yang menamai rasa kehilangan, atau haru, atau cinta yang tak berbalas. Segalanya hanya berlalu, seperti bayangan tanpa tubuh.

Lalu, seperti cahaya pertama yang menembus celah jendela, seorang anak kecil menemukan satu kata. Hanya satu. Tergeletak di tanah, mungkin terjatuh dari bibir seorang penyair yang terlupa. Ia membaca pelan—tak terburu-buru, karena ia belum tahu arti tergesa. Dan sesuatu dalam dirinya menyala.

Kata itu bukan mantra. Ia tidak mengubah dunia luar. Tapi ia menggerakkan sesuatu di dalam: semacam keingintahuan, semacam getar, seperti mata air kecil yang mendadak muncul di tanah kering. Anak itu mulai mencari kata-kata lain. Ia tidak tahu apa yang ia bangun, tapi ia tahu: setiap kata baru membuatnya sedikit lebih tinggi.

Dari kata, lahir kalimat. Dari kalimat, lahir buku. Dari buku-buku, terbentuklah sebuah tangga. Tangga yang tidak lurus, tidak rapi. Ia melingkar, melayang, menanjak secara aneh seperti mimpi yang belum selesai. Tapi anak itu terus menyusunnya. Ia tidak tahu ke mana tangga itu akan mengarah. Tapi ia merasa: ini bukan soal tempat tujuan, ini tentang proses naik itu sendiri.

Dalam perjalanannya, ia bertemu banyak jenis kata. Kata yang hangat, seperti pelukan. Kata yang tajam, seperti belati. Kata yang lembut, seperti bisikan ibu. Kata yang pahit, seperti rahasia. Ia belajar bahwa membaca bukan hanya menerima pengetahuan, tapi membuka luka. Kata-kata bukan hanya alat tukar ide, tetapi jendela ke penderitaan orang lain.

Ia menangis di satu buku. Marah di buku lainnya. Dan tertawa dalam diam pada lembar-lembar yang penuh absurditas hidup. Dalam semua itu, ia naik. Perlahan. Tapi pasti.

Tangga itu terus tumbuh. Buku-buku tak berhenti ditulis. Halaman-halaman terus berlipat, menebal, menjulang. Dunia kini menjadi lebih bising, lebih cepat. Tapi bagi anak itu—yang kini telah menjadi siapa pun yang membaca ini—selalu ada satu tangga yang masih bisa dipijak: tangga dari kata-kata, dari cerita, dari pengetahuan yang jujur.

Dan di ujung tangga itu, tak ada mahkota, tak ada takhta. Hanya langit. Langit yang sama, tapi kini berbeda—karena kini ia punya makna. Langit yang kini bisa ditatap dengan kesadaran bahwa meski kecil, manusia bisa memilih: untuk tetap diam di bawah, atau terus naik, satu kata demi satu kata.

Karena setiap kata yang ditulis dengan jujur, setiap buku yang dibaca dengan hati, adalah satu langkah menuju langit.




April 11, 2025

Tari Kretek

Jumat, April 11, 2025 0
Tari Kretek
Tari Kretek merupakan salah satu tarian tradisional khas dari Kudus, Jawa Tengah, yang diciptakan oleh seniman tari lokal Suripto pada tahun 1985. Tarian ini lahir dari gagasan Dinas Pariwisata Kabupaten Kudus yang ingin memperkenalkan identitas daerah melalui seni pertunjukan yang mencerminkan kehidupan masyarakatnya. Kudus yang dikenal sebagai kota kretek sejak awal abad ke-20, menjadi pusat industri rokok cengkeh-tembakau, dan Tari Kretek hadir sebagai penghormatan terhadap sejarah industri tersebut.

Tarian ini terinspirasi dari kehidupan para buruh pabrik rokok, khususnya buruh perempuan, yang memainkan peran penting dalam proses produksi kretek. Tari Kretek menggambarkan berbagai tahapan dalam proses pembuatan rokok secara manual, seperti memilah tembakau, menggiling cengkeh, mencampur bahan, menggulung, hingga mengemas.

Biasanya, Tari Kretek dibawakan oleh lima hingga tujuh penari, yang mayoritas adalah perempuan. Di antara mereka terdapat satu penari laki-laki, yang memiliki peran simbolis—baik sebagai pengawas pabrik, representasi pemilik modal, atau tokoh laki-laki dalam dinamika sosial pabrik. Kehadiran penari pria ini menambah dimensi dramatik dalam pertunjukan dan memperkaya narasi sosial yang diangkat oleh tarian.

Filosofi gerakan dalam Tari Kretek sangat kuat. Gerak-geriknya meniru aktivitas sehari-hari para buruh, namun dikembangkan menjadi koreografi yang estetis. Setiap gerakan tidak hanya meniru tindakan fisik, tetapi juga menyimbolkan nilai-nilai penting seperti ketelitian (memilah tembakau), kesabaran (menggulung rokok), kerja keras, dan semangat kolektif. Tarian ini menunjukkan bagaimana kerja manual yang rutin pun bisa menjadi sumber keindahan dan kebanggaan budaya.

Busana penari terdiri dari kebaya dan kain batik, dipadukan dengan aksesoris yang menggambarkan suasana kerja di pabrik rokok. Musik pengiringnya memadukan gamelan Jawa dengan efek suara seperti kretek-kretek, meniru suara mesin atau rokok terbakar, menciptakan atmosfer khas pabrik rokok tradisional.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Tari Kretek memiliki fungsi dokumentatif dan edukatif. Ia menyimpan narasi sejarah, menggambarkan peran penting perempuan dalam ekonomi lokal, dan menyuarakan warisan industri yang menjadi bagian dari identitas Kudus. Kini, Tari Kretek kerap dipentaskan dalam festival budaya, acara pemerintahan, serta dijadikan materi ajar di sekolah-sekolah daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

Dengan kekayaan unsur sosial, historis, dan estetisnya, Tari Kretek bukan hanya warisan budaya Kudus, melainkan juga bentuk seni yang merekam dan merayakan kehidupan rakyatnya.

---




April 03, 2025

Dewi Rengganis: Nyanyi Sunyi di Puncak Argopuro

Kamis, April 03, 2025 0
Dewi Rengganis: Nyanyi Sunyi di Puncak Argopuro
Kabut turun pelan-pelan dari puncak. Dingin menggigilkan, menusuk tulang, menyusup ke dalam dada yang sudah renta oleh perjalanan panjang. Argopuro menyimpan lebih dari sekadar lekuk-lekuk gunung dan rimba. Ia menyimpan kenangan, juga kesedihan yang berabad-abad tak sirna.

Dewi Rengganis masih ada di sini.

Orang-orang desa di lereng gunung kerap bicara lirih soal perempuan itu. Seorang putri dari kerajaan yang jatuh, seorang wanita yang menolak tunduk pada zaman yang bergerak, seorang manusia yang memilih menyatu dengan kabut dan hutan. Konon, ia tak pernah mati. Konon, ia masih berkelana di antara pohon-pohon tua, di antara angin yang berhembus di atas padang rumput.

Seorang pengelana muda, Runa namanya, datang ke gunung itu dengan harapan bertemu sosok sang Dewi. Ia bukan orang pertama yang mencarinya, juga bukan yang terakhir. Namun, Runa bukan pendaki biasa. Ia bukan pencari harta, bukan pula pencari wangsit. Ia datang dengan hati yang penuh pertanyaan, sebab di dalam mimpinya, seorang wanita berbisik pelan, seakan memanggilnya ke tempat ini.

Malam di lereng Argopuro selalu pekat. Bintang seolah menjauh, bulan hanya setengah, tertutup awan. Runa duduk di depan api unggun yang nyalanya menari dalam gulita. Angin berdesir, membawa suara yang asing namun juga akrab.

"Kau datang mencariku?" Suara itu lirih, tapi jelas. Seperti angin yang berbisik di antara dedaunan.

Runa menoleh. Seorang perempuan berdiri di tepi cahaya, gaunnya seperti kabut, rambutnya panjang terurai hingga menyentuh tanah. Wajahnya tak bisa diterka—kadang seperti gadis belia, kadang seperti perempuan matang yang telah menelan pahit manis kehidupan. Mata itu, dua biji mutiara yang memantulkan cahaya api.

"Dewi Rengganis?" tanyanya.

Perempuan itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang menyimpan seribu cerita yang tak bisa dikisahkan dalam satu malam.

"Mengapa kau memanggilku dalam mimpiku?" tanya Runa lagi.

Dewi itu berjalan mendekat, lalu duduk di seberang api. "Karena kau mencari jawaban," katanya, "dan setiap pencari jawaban harus mendaki ke tempat yang tinggi."

"Jawaban tentang apa?"

"Tentang dirimu sendiri. Tentang manusia yang kehilangan arah. Tentang dunia yang tak lagi mendengar bisikan angin, tak lagi merasakan dingin air gunung, tak lagi paham bahasa rimba. Bukankah Socrates berkata, 'Kenalilah dirimu sendiri'? Dan Al-Hallaj, dalam fana’-nya, menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri?"

Runa diam. Kata-kata itu terasa jauh, tapi juga dekat. Ia melihat ke dalam api, mencoba mencari makna yang tersirat dalam nyala merah itu. Ia teringat Rumi yang menari dalam ekstase, Ibn Arabi yang berkata bahwa Tuhan tak jauh, tapi ada dalam hati yang bersih. Tapi sebelum ia bisa bicara lagi, Dewi Rengganis telah berdiri. Angin bertiup lebih kencang, membawa harum tanah dan bunga liar.

"Jangan cari aku lagi," katanya. "Cari dirimu sendiri. Seperti Al-Ghazali yang meninggalkan segalanya demi menemukan cahaya sejati. Seperti manusia-manusia yang menanggalkan ego agar melihat kebenaran. Jalan yang kau tempuh bukan di luar sana, tetapi di dalam."

Dan saat Runa berkedip, perempuan itu telah hilang. Tinggal kabut yang menyelimuti gunung, tinggal sunyi yang melagukan nyanyiannya sendiri.

Runa beranjak dari duduknya. Ia tahu, perjalanan sejatinya baru dimulai.





Maret 22, 2025

Ronaldinho: Sang Seniman Lapangan Hijau

Sabtu, Maret 22, 2025 0
Ronaldinho: Sang Seniman Lapangan Hijau
Dalam sejarah sepak bola, hanya segelintir pemain yang mampu mengubah pertandingan menjadi seni. Ronaldinho, atau yang akrab dipanggil Ronnie, adalah salah satu dari mereka. Dengan senyuman khas yang selalu menghiasi wajahnya, pemain asal Brasil ini membawa pesona magis ke setiap lapangan yang ia pijak. Karier Ronaldinho tidak hanya ditandai oleh prestasi gemilang, tetapi juga oleh gaya bermain yang memukau hati jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Atribut Istimewa Ronaldinho

Keunikan Ronaldinho terletak pada visinya yang luar biasa, kemampuan teknik yang mengagumkan, dan insting sepak bola yang tiada duanya. Ia mampu membuat bola seakan hidup, menari di bawah kendalinya. Berbagai trik, seperti elastico, flip-flap, dan no-look pass, menjadi ciri khasnya. Ia tidak hanya bermain untuk menang; ia bermain untuk menghibur.

Salah satu atribut terbaik Ronaldinho adalah ketenangannya dalam tekanan. Dalam situasi yang paling intens sekalipun, ia tetap mampu membuat keputusan yang tepat. Kombinasi kecepatan, kekuatan, dan fleksibilitasnya memungkinkan Ronaldinho untuk menjadi ancaman konstan bagi pertahanan lawan. Selain itu, ia adalah pemimpin yang inspiratif, baik di dalam maupun di luar lapangan, memotivasi rekan-rekannya untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Statistik Karier

Ronaldinho memulai karier profesionalnya di Gremio pada tahun 1998, sebelum kemudian hijrah ke Eropa dan bergabung dengan Paris Saint-Germain (PSG). Meski bersinar di PSG, puncak kariernya terjadi ketika ia bergabung dengan FC Barcelona pada 2003. Di klub ini, ia menjelma menjadi ikon dunia sepak bola.

Selama membela Barcelona, Ronaldinho mencatatkan total 94 gol dan lebih dari 70 assist dalam 207 pertandingan di semua kompetisi. Ia memenangkan Ballon d'Or pada tahun 2005, sebuah penghargaan individu tertinggi dalam sepak bola, sebagai pengakuan atas kontribusinya. Selain itu, ia membawa Barcelona meraih dua gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions UEFA pada musim 2005/2006.

Pada level internasional, Ronaldinho adalah bagian dari generasi emas Brasil yang memenangkan Piala Dunia 2002. Ia mencetak gol legendaris dari tendangan bebas melawan Inggris di perempat final, sebuah momen yang masih dikenang hingga kini. Dalam total 97 penampilan untuk tim nasional Brasil, ia mencetak 33 gol dan memberikan banyak momen magis.

Warisan Abadi

Meski akhirnya meninggalkan Barcelona dan menghabiskan kariernya di klub lain seperti AC Milan, Flamengo, dan Atlético Mineiro, pengaruh Ronaldinho di dunia sepak bola tetap abadi. Ia adalah simbol dari permainan indah, "jogo bonito," yang telah menjadi identitas sepak bola Brasil. Bahkan setelah pensiun, Ronaldinho terus dihormati sebagai duta olahraga ini, menginspirasi generasi pemain muda.

Kehebatan Ronaldinho tidak hanya diukur dari jumlah trofi yang ia raih, tetapi juga dari dampaknya pada budaya sepak bola. Ia mengajarkan dunia bahwa permainan ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang gairah, seni, dan ekspresi diri.

---







Maret 16, 2025

Tim Nasional Indonesia dan Filosofi Total Football: Potret Peluang dan Masa Depan

Minggu, Maret 16, 2025 0
Tim Nasional Indonesia dan Filosofi Total Football: Potret Peluang dan Masa Depan
Total Football, sebuah filosofi permainan sepak bola yang revolusioner, telah lama menjadi inspirasi bagi dunia sepak bola. Gagasan yang populer berkat tim nasional Belanda pada tahun 1970-an ini mendobrak formasi kaku menjadi dinamika pergerakan yang serba fleksibel. Prinsip utamanya adalah fleksibilitas posisi, di mana setiap pemain dapat saling menggantikan, menuntut stamina tinggi, kecerdasan taktis, dan kerja sama tim yang solid. Dengan esensi menyerang dan tekanan tinggi, filosofi ini menjadi blueprint taktik modern yang memengaruhi pelatih-pelatih seperti Pep Guardiola. Namun, bagaimana jika pendekatan ini diterapkan oleh Tim Nasional Indonesia?

Adaptasi konsep Total Football untuk Timnas Indonesia tentu menghadirkan potensi besar sekaligus tantangan tersendiri. Untuk dapat bersaing di level internasional, pemain Indonesia harus memiliki kemampuan bermain multifungsi dengan pemahaman taktis mendalam. Hal ini membutuhkan pengembangan akademi usia dini yang fokus pada teknik, stamina, dan kreativitas, serta transformasi pola pikir pemain menjadi lebih kolektif. Latihan transisi cepat, pressing agresif, serta komunikasi yang baik dalam tim menjadi prasyarat utama untuk keberhasilan implementasi konsep ini.

Salah satu tantangan besar adalah fakta bahwa Indonesia sering dianggap kalah secara fisik dibandingkan dengan tim-tim internasional. Namun, ini bisa menjadi peluang untuk memanfaatkan kecepatan, teknik, dan kreativitas pemain Indonesia. Filosofi Total Football dapat dimodifikasi menjadi pendekatan khas Indonesia yang mengakomodasi kelebihan ini. Selain itu, dukungan dari pelatih dengan wawasan internasional seperti Patrick Kluivert memungkinkan ide ini diimplementasikan dengan pendekatan taktis yang lebih adaptif dan modern.

Konteks ini menjadi relevan menjelang dua laga penting Tim Nasional Indonesia dalam ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, yaitu menghadapi Australia pada 20 Maret 2025 dan Bahrain pada 25 Maret 2025. Pelatih Patrick Kluivert telah memanggil pemain yang merupakan kombinasi dari bakat lokal dan naturalisasi, seperti Maarten Paes, Pratama Arhan, Rizky Ridho, Jordi Amat, hingga pemain baru seperti Emil Audero, Dean James, dan Joey Pelupessy. Kehadiran mereka meningkatkan kualitas skuad Indonesia, memberi stabilitas di lini belakang, kreativitas di lini tengah, serta pengalaman internasional yang sangat dibutuhkan.

Namun, melawan Australia di Sydney merupakan tantangan besar. Meskipun ada keuntungan dari absennya beberapa pemain kunci Australia, seperti Harry Souttar, dukungan suporter mereka dan pengalaman bermain di kompetisi internasional tetap menjadi ancaman. Di sisi lain, Indonesia memiliki momentum positif, terutama dengan motivasi tinggi untuk menjaga peluang lolos ke fase berikutnya. Kemenangan atas Australia akan menjadi langkah besar menuju sejarah.

Strategi yang dapat diterapkan oleh Patrick Kluivert mencakup formasi fleksibel seperti 4-3-3 atau 4-2-3-1, yang memungkinkan adaptasi dalam permainan tergantung pada situasi di lapangan. Pemain naturalisasi seperti Martin Paes/Emil Audero dapat menjadi kunci di sektor penjaga gawang, memberikan rasa aman dengan pengalamannya di liga top Eropa. Gelandang bertahan seperti Joey Pelupessy dapat membantu menyeimbangkan permainan antara bertahan dan menyerang, sementara Dean James dapat memperkuat lini belakang dengan kemampuan serba bisanya.

Secara keseluruhan, menghadapi Australia akan menjadi ujian nyata untuk visi jangka panjang sepak bola Indonesia. Dengan filosofi yang mengacu pada prinsip Total Football, pemain seperti Marselino Ferdinan, Tom Haye, dan Joey Pelupessy dapat menjadi motor permainan yang dinamis, menutup ruang, menciptakan peluang, dan membangun serangan cepat. Di sisi lain, lini pertahanan harus fokus pada koordinasi untuk menghadapi serangan balik lawan yang cepat.

Selain itu, laga melawan Bahrain di Stadion Gelora Bung Karno menjadi kesempatan untuk memaksimalkan dukungan suporter tanah air. Dengan persaingan ketat di Grup C, setiap poin akan sangat berarti dalam menentukan nasib Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia. Timnas harus memanfaatkan keunggulan kandang untuk bermain dengan semangat dan determinasi tinggi.

Keseluruhan perbincangan ini membawa kita pada satu kesimpulan penting: filosofi seperti Total Football memang menuntut komitmen jangka panjang, baik dari sistem pelatihan, pengembangan pemain, hingga mentalitas kolektif di lapangan. Namun, jika diterapkan dengan bijak, tidak ada alasan mengapa Indonesia tidak bisa bersaing di level tertinggi dan menciptakan identitas permainan yang unik dan membanggakan.

Dengan segala persiapan ini, optimisme tim nasional Indonesia tetap tinggi. Apakah ini akan menjadi awal dari babak baru sejarah sepak bola Indonesia? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Namun satu hal pasti, langkah ini adalah fondasi penting menuju kejayaan di masa depan.




Maret 07, 2025

Setiap Buku Menulis Ceritanya Sendiri

Jumat, Maret 07, 2025 0
Setiap Buku Menulis Ceritanya Sendiri
Di sini saya tidak akan bercerita tentang isi buku "YANG MENYUBLIM DI SELA HUJAN" yang ditulis oleh Bang Fawaz, karena buku yang satu ini ternyata juga menuliskan ceritanya sendiri. 

Sepertinya buku ini juga ingin berkelana ke berbagai tempat yang tidak saya ketahui sebagaimana isi buku ini yang menjelajah rimba Papua. 

Petualangan buku ini langsung dimulai sejak paket berisi buku ini saya terima dari kurir. Siang itu datang dua orang ke rumah untuk meminjam buku-buku yang saya miliki. Seperti biasanya, saya persilakan mereka untuk memilih buku yang mereka ingin baca. Ternyata salah seorang di antara mereka memilih buku ini untuk dibawa pulang. Saya iya-in aja buku ini dipinjam, meski segel pembungkusnya belum sempat terlepas. 

Tentunya saya sadar dengan resiko meminjamkan buku, sebagian besar buku-buku itu tidak akan kembali. Namun saya selalu mencoba berbaik sangka kepada siapa pun yang meminjam buku-buku yang saya miliki. Kalau memang jodoh, saya yakin akan dipertemukan kembali. 

Setahun kemudian saya teringat pernah memiliki buku ini dan sama sekali belum membacanya. Saya coba hubungi ke orang yang dulu meminjamnya. Ternyata buku ini sudah tidak dibawanya, buku ini dibawa temannya yang lain. Kemudian saya coba hubungi orang kedua yang membawa buku ini, dia berjanji untuk mencarinya terlebih dahulu karena sudah lupa pernah membawanya. 

Beberapa bulan kemudian buku ini pun dikembalikan ke saya. Karena saya sedang membaca buku lainnya, saya belum sempat untuk membaca buku ini. Sekira satu dua minggu buku ini menjejak di rak buku yang saya miliki, ada orang yang datang ke rumah untuk meminjam beberapa buku, dan lagi-lagi buku ini terpilih untuk dipinjam. 

Dan mirip kejadian sebelumnya, buku ini ternyata berpindah-pindah tangan lagi. Saya sampai tidak ingat berapa orang yang telah meminjamnya. Butuh setahun lagi untuk buku ini kembali mendarat di rak buku yang saya miliki. 

Ternyata petualangan buku ini untuk dipinjam orang belum selesai sampai di situ. Buku ini juga sempat selama setahun saya pinjamkan untuk ditempatkan di rak buku sebuah kafe. Tentunya saya tidak lagi bisa menghitung berapa orang yang telah membaca isi buku ini. 

Sampai saat ini saya sangat yakin buku ini berjodoh dengan saya, seberapa jauh dia pergi ke tempat yang tidak saya ketahui, pada akhirnya dia tetap kembali. Saya juga percaya jika buku ini adalah buku yang bagus, buku yang memiliki manfaat untuk banyak orang. 

Tolong jangan tanya saya apa isi buku ini, karena sejauh halaman buku ini saya baca, saya baru sampai di Kata Pengantar.



Agustus 22, 2024

Mabok Tai

Kamis, Agustus 22, 2024 0
Mabok Tai

Hei, Bung! 
Bagaimana mula semua ini terjadi? 

Sederhana, 
dengan membikin semua orang tidak bisa membedakan mana roti dan mana tai. 
Diawali dari orang-orang berpendidikan, 
orang-orang kaya, 
dan mereka yang memiliki banyak pengikut. 

Bikin mereka semua menikmati tai yang tersaji dalam bentuk roti.  
Pelan namun pasti, 
semua orang ikut berebut remah-remah tai. 

Perkara mereka yang sadar tentang tai berbentuk roti, 
biarkan saja, 
mereka akan dimusuhi dan melipir ke tepi. 

Roti-roti terlalu sayang untuk dibagi, 
tai-tai berwujud roti makin terstruktur diproduksi, 
Roti-roti hanya untuk kalangan sendiri, 
di luaran, orang-orang tak sadar dimabok tai. 

Tai tetaplah tai. 
Pada akhirnya kebusukan tai sendiri yang menyadarkan mereka yang mabok tinggi. 
Satu persatu mereka mengerti, 
mana roti mana tai. 

Apakah salah jika mengembalikan sisa tai yang dimiliki? 
Setidaknya biar mereka juga mengerti, 
tai-tai yang mereka produksi lebih busuk dari bau ketek mereka sendiri. 

Mei 21, 2024

Menentukan Pilihan

Selasa, Mei 21, 2024 0
Menentukan Pilihan


Masih lekat di ingatan saya, beberapa bulan lalu banyak orang ribut perihal layakkah gambar AI disebut sebagai sebuah karya? Beberapa teman juga sempat menanyakan hal itu kepada saya. Saat itu saya tidak perlu berpikir panjang untuk menjawabnya, jika memang suka lakukan, asal tidak merugikan buat yang lain.

Bagi saya membuat "prompt" untuk membuat sebuah gambar AI adalah sebuah seni menentukan pilihan kata yang tepat guna menghasilkan gambar. Agak berlebihan memang. Sederhananya membuat "prompt" merupakan sebuah proses mengasah kreatifitas. Dan ini menjadi tidak sederhana lagi ketika saya menyadari bahwa kreatifitas itu sangatlah penting untuk menghadapi situasi sulit atau pun pilihan rumit di dalam menjalani hidup. 

Anda boleh tidak percaya kepada saya, namun saya yakin dalam perjalanan hidup, anda pasti pernah dan akan bertemu dengan situasi rumit yang bersifat kritis yang memerlukan tindakan yang cepat, tepat dan akurat. Tindakan ini tidak akan cukup dilakukan hanya dengan mengandalkan logika saja, kreatifitas akan sangat berperan dalam melakukan tindakan cepat, tepat dan akurat tersebut. 

Berkali-kali saya seringkali melihat orang terlatih pun masih bisa keliru dalam menentukan sebuah pilihan yang sulit. Karena ternyata apa yang mereka hadapi memiliki elemen kejutan yang belum pernah mereka latih sebelumnya. Kepanikan mematikan nalar, tindakan yang seharusnya didahulukan kemudian dikesampingkan. Disinilah peran kreatifitas itu diperlukan, manakala kejutan-kejutan muncul di luar perkiraan. Mereka yang sering mengasah kreatifitas lah yang memiliki peluang terbesar untuk dapat melakukan pilihan tindakan yang cepat, tepat dan akurat di saat situasi rumit dengan pilihan yang sulit. 

Mungkin saat ini anda merasa membuat "prompt" adalah sebuah kesia-siaan karena tidak menghasilkan apa pun. Itu salah, teruslah berkreasi, asah kreatifitas yang anda miliki, kelak saat anda bertemu dengan pilihan sulit di situasi yang rumit, anda akan dapat dengan cepat, tepat dan akurat menentukan pilihan dan menyelesaikannya. 

Bayangkan jika anda adalah sosok berkepala sempoa seperti yang ada di dalam gambar. Apa yang akan anda lakukan jika menemui seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan anda saat itu juga, sedangkan di depan mata anda ada begitu berlimpah pundi-pundi kekayaan yang bisa saja hilang dari jangkauan anda dalam sekejap? 
Tidak perlu dijawab, kelak bila anda bertemu dengan situasi semacam ini, barulah anda akan teringat dengan saya. 

Credit:
Terima kasih untuk Nia Mansi atas pandangan artistiknya yang menyarankan saya mengganti kalkulator dengan sempoa. 

Februari 24, 2024

Garuda Purana

Sabtu, Februari 24, 2024 0
Garuda Purana
terbakar
jatuh
dikalahkan

ia bangkit
dari serpihan abu
ke dalam wujud baru

kembali menerjang
atas nama perjuangan
untuk kembali menjadi abu
untuk menjadi bangkit lagi


Kudus, 24 Februari 2024







Februari 13, 2024

Kuda

Selasa, Februari 13, 2024 0
Kuda
 

      Dalam permainan catur, kuda adalah bidak yang paling istimewa. Ketika semua bidak berjalan lurus dalam garis, kuda memiliki langkahnya sendiri. Bahkan kuda mampu melangkah melewati barikade teman ataupun lawan, sesuatu yang tidak bisa dilakukan raja, mentri, gajah, benteng dan pion. 

       Oleh karena hal itu, sejak dulu, saat main catur saya selalu mempertahankan kuda yang saya miliki sampai permainan berakhir. Tak akan saya biarkan kuda saya dimakan percuma, karena kuda adalah kunci. 

       Langkah kuda yang tak terduga seringkali bisa menjadi senjata yang menguntungkan untuk mencuri kelengahan lawan. Pun demikian di saat bertahan, kuda mampu secara tiba-tiba membalikkan arah perminan dengan langkah-langkahnya yang sering tidak terdeteksi radar lawan. 

       Saat benar-benar terdesak, bidak-bidak lain telah menjadi santapan lawan, jurus terakhir yang saya gunakan adalah menarik kuda mendekat kepada raja. Bila skak mat itu tiba, saya naikkan raja ke punggung kuda untuk melangkah kabur menghindarkan raja dari kematian. 

----hampir tamat----






Januari 22, 2024

Asal-usul Sambel Terasi

Senin, Januari 22, 2024 0
Asal-usul Sambel Terasi




Nusantara baru mengenal tanaman cabai pada abad ke 15, Cabai dibawa masuk ke Nusantara oleh Armada laut Portugis yang pertama kali masuk melalui Malaka di tahun 1511.

Jauh sebelum itu masyarakat Nusantara belum mengenal cabai. Namun sambel sudah dikenal, dengan bahan dari rempah dan cabe Jawa (piper retrofractum)

Di sebuah padepokan bela diri yang terletak di utara alas Dadapan, tinggalah Sekar Rawit, gadis muda yang menimba ilmu kanuragan pada Mbah Suro.

Dia satu-satunya perempuan di padepokan itu, Sekar Rawit seringkali diledek teman-teman seperguruan karena tidak bisa membikin sambel.

Meskipun sambel buatannya tidak enak, namun ilmu bela diri tangan kosong Sekar Rawit sudah mumpuni, senjata utamanya adalah kain selendang berwarna biru.

Tersiar kabar bahwa di timur alas Dadapan, di sebuah desa bernama Dadukawu, ada seorang pembuat sambel yang sangat enak. Dia baru saja pulang dari berkelana melintasi samudra dengan kapal Djung besar.

Sekar Rawit tanpa pikir panjang memutuskan untuk pergi ke Desa Dudakawu untuk menemui pembuat sambel tersebut.

Malam itu sangat suram, bulan berwarna merah darah, Sekar Rawit terkejut melihat di Desa Dudakawu sedang terjadi kerusuhan besar. Orang-orang saling serang dan beberapa rumah mulai terbakar.

Sekar Rawit langsung terjun ke arah pertempuran. Satu-persatu mereka dilumpuhkan. Selendangnya memyambar-nyambar, pukulan dan tendangannya menjatuhkan banyak orang.

Dari satu orang yang berhasil dilumpuhkannya, Sekar Rawit mendapat informasi rumah pembuat sambel tersebut

Rumah itu mulai terbakar hebat, Sekar Rawit mempercepat serangannya untuk melumpuhkan orang-orang yang saling berkelahi memperebutkan kitab pusaka sambel.

Akhirnya semua orang berhasil dilumpuhkan. Sekar Rawit bergegas memasuki rumah yang terbakar. Di dalam rumah, ia menemukan sebuah kitab tergeletak di atas meja.

Sekar Rawit memastikan dengan cepat bahwa itulah kitab yang dia cari, segera ia berlari menerobos jendela rumah yang terbakar. Dia terus berlari kencang menuju padepokan.

Dari kitab tersebut. Ia mulai meracik bahan-bahan untuk membuat sambel yang enak.

Begitulah asal-usul sambel terasi tercipta, tentunya tidak harus dipercaya karena ini hanyalah sekedar usul yang asal. 

Video: 🎥putar

Januari 04, 2024

Kelihatannya Saja

Kamis, Januari 04, 2024 0
Kelihatannya Saja





     Siang ini saya lapar, cuaca mendung sesekali terdengar gemuruh guntur di kejauhan. Istriku masih sibuk di dapur memasak sayur dan lauk buat makan siang. Belum juga saya temukan sesuatu buat penunda lapar. 

     Ah, daripada terus didera lapar, saya memutuskan buat masuk ke bing image creator. Pikiran saya tertuju kepada semangkuk mie ayam yang sepertinya bisa buat menghentikan rasa lapar yang kian melanda. 

     Sembari dikuasai lapar, pelan-pelan dua jempol saya mengetikkan deskripsi gambar untuk dikerjakan AI. Jadilah ketikan itu seperti ini:

"Subyek adalah makanan (semangkuk mie ayam yang terlihat lezat), ditempatkan di background gelap yang menciptakan contrast yang kuat, gambar di-highlight dengan gaya iklan, strategi pencahayaan digunakan untuk memperjelas bentuk dan tekstur, menimbulkan efek tertahan dengan background gelap memunculkan kontras yang jelas,  fokus pencahayaan menjadikan subyek menjadi lebih menarik dan menggoda." 

     Tangan saya yang mulai gemetar segera menyentuh tombol "create", dan tersajilah empat mangkuk mie ayam dengan berbagai tampilan. Semuanya terlihat lezat, enak dan menggoda untuk dilahap. Saya tertegun beberapa saat, meneln air liur karena rasa lapar sudah sampai di ujung lidah. 

     Teriakan istri saya mengajak makan siang membuat saya tersadar, empat mangkuk mie ayam itu tak akan membuat saya kenyang. 
Terima kasih, sayang. Sambal cumimu siang ini enak tiada terkira. 

Desember 11, 2023

Sesekali Iseng Dengan AI

Senin, Desember 11, 2023 0
Sesekali Iseng Dengan AI
     Sudah lama saya ingin mencoba bikin-bikin sesuatu dengan image creator AI, cuman karena niatnya iseng, ya, akhirnya nggak segera kesampaian. Siang tadi mendadak dapat ide gimana kalau sebuah paragraf dari sebuah novel divisualkan secara 3D melalui AI. Sore harinya setelah siram-siram tanaman akhirnya saya sempatkan pegang HP, langsung browsing image creator online. 

     Deskripsi yang saya masukkan adalah paragraf pertama dari novel berjudul Bekisar Merah tulisan Ahmad Tohari. Namun tidak semua kalimat dapat saya ketik karena memang ada batasan jumlah karakter yang bisa dimasukkan. Deskripsi yang saya tuliskan seperti ini:
"Dari balik tirai hujan sore hari pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan mandi basah; segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang renang dan penuh pesona. Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah. 
3D Animasi"


     Dari deskripsi tersebut tercipta empat gambar yang bisa dipilih. 




     Hasilnya memang belum sesuai dengan imajinasi saya tentang desa Karangsoga. Namun keempat gambar tersebut pastinya lebih indah bila dibandingkan dengan gambar-gambar lukisan saya sendiri. 

     Setelah iseng bikin gambar tersebut, kok ya jadi pengen membikin gambar Darsa atau Lasi berdasarkan deskripsi yang ada di novel tersebut. Penasaran juga bagaimana dengan novel-novel lain bila divisualkan dengan AI. 

     Tapi semua itu cuma penasaran saja, nggak harus terwujud sesegera mungkin. Entahlah mungkin besok atau satu minggu lagi, atau bahkan setahun berlalu tapi masih saja rasa penasaran itu tidak terpenuhi. 

November 14, 2023

Supra Kesayangan Bapak

Selasa, November 14, 2023 2
Supra Kesayangan Bapak
Buat kebanyakan orang, ini hanyalah sebuah Supra. 
Bagi saya adalah pusaka yang harus dengan segenap jiwa untuk dijaga. 

Persetan dengan standar hidup orang lain. 
Saya memilih menjalani hidup dengan cara saya sendiri. 

Selagine isih gelem obah, 
ora usah kuatir ora iso mamah. 

Tanjakan, turunan, jeglongan, gronjalan dan juga tikungan. 
Hanya perlu dilewati tanpa perlu ditakuti. 
Perkara ditikung, dikempot atau diasapi. 
Tak perlu jadi panas hati,
yang membikin hilang arah dan tujuan pasti. 

Biarkan mereka berlalu dengan tawa merendahkan usiamu. 
Buat saya, engkau adalah berkah. 
Semenjak bersama, tak sekalipun kau membuat saya celaka dalam musibah. 

Panjang usia, Supra kesayangan Bapak! 

Maret 28, 2023

Sakumpulan Wikupedia

Selasa, Maret 28, 2023 0
Sakumpulan Wikupedia

       Menempel pada sehelai daun di ketinggian 1 meter dari permukaan tanah, siput ini tetap tenang dan tak terlihat panik meskipun batang pohon yang tak lebih besar dari jari kelingking orang dewasa itu bergerak kencang tertiup angin. Siput ini tidak jatuh dan tetap tidak bergerak, lembar daunnya pun tak patah. Apa mungkin dia punya semacam ilmu meringankan tubuh? 

       Ada juga yang menyatakan bahwa beberapa jenis siput tertentu dapat tidur hingga 3 tahun dalam mode hibernasi atau estivasi. Hal ini tentu membuat saya penasaran. Kok, ya ada manusia yang sempat nungguin siput tidur selama 3 tahun, jangan-jangan itu siput bukan tidur, bisa aja kan siputnya sedang koma. 

#Wikupedia
*****

 
      Pernahkah sesekali terpikir berapa lama rata-rata waktu yang kita habiskan di jalanan di sepanjang usia? 
       Ada sebuah fakta yang menyebutkan bahwa setiap manusia dalam hidupnya rata-rata habis untuk menunggu di lampu merah selama 2 minggu. 
       Kurang tahu juga itu fakta diambil pada tahun berapa dan di negara mana. 
       Kalau di sini pastinya tidak berlaku fakta tersebut. Lha, lampu merah aja pada diterobos atau belum juga lampu menyala hijau, kendaraan di belakang udah pada berisik main klakson. 

#Wikupedia
*****


       Kecoa. Binatang yang oleh banyak orang dianggap menjijikkan dan sering kali dikira kurma pada saat perut kosong menunggu waktu berbuka, ternyata memiliki kemampuan super dalam bertahan hidup. 
       Kecoa mampu tetap hidup selama sembilan hari tanpa kepala, hingga akhirnya mati karena kelaparan. 
       Coba kalau kecoa tanpa kepala itu diinfus, pastinya daya hidupnya akan bertahan lebih lama lagi. 
Jadi buat yang punya produk awet dan tahan lama, sepertinya tepat bila menggunakan logo bergambar kecoa diinfus. 

#Wikupedia
*****


       Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang bisa terbang. Dan anehnya saat terbang keluar goa kelelawar selalu belok kiri. 
       Jangan-jangan rambu belok kiri jalan terus terinspirasi dari cara kelelawar terbang keluar goa. 

#Wikupedia
*****


       Ternyata, oh, ternyata. Lidah masing-masing orang itu memiliki bentuk yang berbeda. Mirip dengan sidik jari, lidah setiap orang memiliki bentuk keunikan masing-masing. Lidah dilindungi di dalam mulut dan akan sulit untuk dipalsukan.
       Seiring berkembangnya tehnologi pengamanan, bagian tubuh manusia dijadiikan sebagai kunci akses, misal kunci akses dengan memindai finger print, face recognition, bahkan dengan retina. 
       Dengan karakteristik lidah yang berbeda di tiap orang tentunya akan sangat memungkinkan menggunakan jilatan lidah untuk membuka kunci akses. 
       Sepertinya memang belum ada yang membuat perangkat untuk memindai lidah. Tentu ini kabar baik dong buat para pioner untuk segera memikirkan purwarupa perangkat kunci akses dengan menggunakan jilatan sebagai kuncinya. 

#Wikupedia
*****


       Menurut penelitian para ahli, diketahui bahwa seekor paus mampu menyerap karbondioksida lebih banyak dari sebatang pohon besar. Kotoran ikan paus akan menjadi asupan bagi plankton-plankton di lautan dalam prosesnya berfotosintesis. Dalam hal itu akan menyerap begitu banyak karbondioksida dan melepaskan oksigen dalam jumlah yang besar di udara.         Nah, biar dunia jadi lebih seger dan kandungan oksigen di atmosfer bumi semakin tinggi, bagamana jika kita ternak paus saja?

#Wikupedia
*****

Januari 31, 2022

Melakukan Karena Kebiasaan atau Kesadaran?

Senin, Januari 31, 2022 2
Melakukan Karena Kebiasaan atau Kesadaran?


       Sudah teramat sering kita mendengar frasa dipaksa, terpaksa, hingga akhirnya terbiasa. Sebuah ungkapan yang biasa digunakan untuk memotivasi seseorang agar terbiasa melakukan sesuatu. 
Kita ambil contoh, seorang anak yang dipaksa belajar oleh orangtuanya, tentunya sang anak dengan terpaksa melakukannya. Namun karena seringnya terpaksa belajar, anak ini menjadi terbiasa untuk belajar dan belajar kemudian menjadi sebuah kebiasaan. 
Luar biasa! 

       Hingga kemudian saya merasa agak-agak gimana bila mendengar kalimat melakukan sesuatu karena kebiasaan, rasanya ada yang kurang pas saja. 
Apakah kita ini dalam melakukan sesuatu itu karena terbiasa dan menjadi kebiasaan, atau ada alasan lain untuk perbuatan yang sehari-hari kita lakukan? 
Sepertinya melakukan sesuatu itu akan terasa lebih pas bila dilakukan dengan kesadaran. 
Benar nggak sih? 

       Coba kita bandingkan keduanya dengan menggunakan perbuatan baik dan tercela. 
Misalnya, Si X terbiasa berdoa sebelum makan. 
Bagus dong, dan nggak ada yang salah tentunya. 
Bagaimana bila si X berdoa bukan karena kebiasaan, melainkan kesadaran. 
Dia memiliki kesadaran untuk bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang diterimanya. 
Dia juga memiliki kesadaran untuk berterima kasih kepada petani yang menumbuhkan padi hingga berproses menjadi nasi yang disantapnya. 
Kemudian dia juga memiliki kesadaran berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam proses tersajinya hidangan yang akan disantapnya. 
Tentunya kesadaran-kesadaran yang muncul dari berdoanya Si X akan semakin menambahkan nilai syukurnya terhadap Sang Pencipta. Dia tidak hanya berdoa untuk dirinya, namun untuk seluruh yang terlibat dalam proses terjadinya hidangan tersebut.

       Nah, kalau Si X ini memiliki kebiasaan mencuri, bagaimana jika kesadaran itu dilibatkan dalam tindakannya? 
Si X memiliki kesadaran bahwa mencuri adalah cara yang cepat untuk mendapatkan uang bila tidak tertangkap. 
Dia selalu berhati-hati saat merencanakan pencuriannya sebaik mungkin karena kesadaran akan konsekuensi bila tertangkap.
Sampai pada akhirnya dia memiliki kesadaran bahwa mencuri itu merugikan orang lain, dan batal sudah pencurian yang akan dia lakukan. 

       Mungkin saya salah dalam memberikan contoh perbandingan, namun untuk saat ini saya lebih memilih untuk menuliskan ini di blog karena kesadaran. Bagaimana mungkin saya terbiasa menulis blog, lha kenyataannya saja saya sudah setahun lebih nggak menulis apa pun di sini. 
Terserah kalian mau memilih yang mana, 
Dipaksa, terpaksa, untuk terbiasa, atau dipaksa terpaksa, untuk memiliki kesadaran? 
Di sini saya sama sekali tidak memaksa lho ya! 





November 16, 2020

Kerah

Senin, November 16, 2020 0
Kerah



ribut-ribut di atap rumah menjadikan aku kembali terjaga 
satu lewat lima puluh menit pagi 
bah, tiga puluh menit saja aku terlelap 
entah sedang apa kucing-kucing itu di atas genting 
berisik, saling menggerendeng tiada henti 

mataku tetap terpejam 
namun lelap tak juga kudapatkan
suara ribut tetap berlanjut 
menambahkan bonus nyeri di gigi yang terus berdenyut 

aku dengar 
bapak keluar rumah 
dilemparnya kerikil ke genteng 
berharap keributan segera bubar 
kucing-kucing tetap tak peduli 
masih menggeram dan mengerang panjang  

aku dengar 
suara air mengguyur genteng 
keributan tak kunjung reda 
bapak yang tak lagi punya kuasa 
masuk kamar menyumpal telinga 

keriuhan di atas genteng tak juga usai 
tak tahu apa yang mereka sengketakan 
mungkin mereka ribut tentang ulama dan pesohor yang bertikai 
atau kucing-kucing itu berselisih tentang keaslian video lucah yang tengah beredar 
mana mungkin mereka peduli dengan derita nyeri di gigi pada dini hari 

aku membuka mata 
tak sanggup lagi melanjutkan tidur dengan kebisingan yang ada 
derita gigi semakin mendera 
menambah pening isi kepala 

aku beranjak dari tempat tidur 
kubikin batuk 
mengusir biang onar agar segera bubar 
segelas air putih mungkin bisa bikin nyeri mengendur 
alam tidur tak juga kusambangi 
nyeri gigi tak menyusul keributan itu pergi
aku kembali terjaga 
hingga fajar tiba 


Kudus, 16 November 2020



Oktober 11, 2020

Tumirin Edan

Minggu, Oktober 11, 2020 0
Tumirin Edan
       Pos Kamling itu berbentuk panggung, berdiri di timur halaman Masjid Jami'. Tidak besar, namun cukup lapang untuk orang-orang sekedar main karambol dan juga catur. Dari dalam Pos Kamling orang bisa dengan leluasa memandang ke arah halaman dan tempat parkir Masjid Jami'. Setahun yang lalu Pos Kamling ini berdiri, dan sejak itu tiada lagi terdengar berita jamaah yang kehilangan sepeda yang di parkir di halaman Masjid Jami' saat sedang beribadah. Dari jalan orang bisa melihat langsung apa yang ada di dalam Pos Kamling, meja karambol disandarkan di dinding, sementara dua papan catur tersusun rapi di pojokan. Begitulah penampakan Pos Kamling itu di pagi hari saat tak berpenghuni. 

       Matahari mulai tinggi, Tumirin duduk mencangkung di Pos Kamling sambil menghembuskan asap kretek yang sedang dinikmatinya. Dari arah barat Bagas dan Gander berjalan menuju Pos Kamling. Melihat Tumirin di Pos Kamling, Gander menghentikan langkahnya. 
"Waduh, Gas, gimana ini? Malah ada Tumirin jaga Pos," tanya Gander sambil memegangi pundak Bagas. 
"Udah tenang aja, kita lanjut aja permainan semalam. Tumirin nggak bakalan ngamuk kalau nggak diganggu," jawab Bagas sambil terus berjalan ke arah Pos Kamling diiringi langkah ragu Gander. 
Sesampainya di depan Pos Kamling, dengan santai Bagas masuk sambil menyapa Tumirin, "Misi, Kang, kami numpang main catur bentar."
Tumirin hanya sekilas menoleh ke arah dua pemuda tanggung itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tumirin masih tetap asik menikmati kreteknya sambil sesekali bergumam tanpa suara. 

       Kedua pemuda tanggung yang baru saja lulus SMA itu telah saling bersila berhadapan di tengah Pos Kamling. Posisi duduk Bagas berdekatan dengan Tumirin, sedangkan Gander ada di seberang Bagas dengan papan catur sebagai pembatasnya. Mereka mulai menyusun buah catur, kali ini Gander dengan buah putih dan Bagas di sisi hitam. Delapan langkah awal berlalu cepat karena mereka telah saling terbiasa dengan gaya lawannya. Gander langsung melakukan inisiatif serangan ke bagian sayap kiri pertahanan Bagas dengan menggunakan mentrinya. Langkah antisipasi dilakukan Bagas dengan membatasi gerak mentri Gander dan membikin seluruh buah caturnya saling melindungi. Pada langkah ke-19, mentri Gander kehabisan langkah sehingga Gander terpaksa menukar mentri miliknya dengan kuda dan gajah milik Bagas. Kini Gander dalam posisi tertekan, pertahanannya terlanjur terbuka. 

       Bagas mulai memikirkan langkah serangan selanjutnya ketika tiba-tiba Tumirin membuka suara, "Lho, kamu nggak ikutan Demo, Gas?"
Bagas dan Gander kaget mendengar pertanyaan yang secara mendadak diajukan oleh Tumirin. 
"Nggak, Kang. Aku nggak pernah baca isi undang-undang yang disahkan itu, kan ya malu kalau dikatain demo kok gak ngerti isi yang didemo," jawab Bagas sambil memindahkan mentrinya ke pusat pertahanan Gander. 
Tumirin diam sejenak sambil manggut-manggut, gondrong rambutnya yang gimbal tak tersentuh air disibaknya pelan dengan telapak tangan kirinya. Diambilnya sebatang kretek yang terselip di daun telinga, "cresss" kretek dinyalakan dan dihisapnya dalam-dalam. 
"Hmm, ya, hmm, nggak bisa gitu juga, Gas. Urusan menolak dan mendukung itu tak melulu soal sudah membaca atau belum. Itu bukan sebuah kesalahan, hmmm." 
Tumirin menghisap kreteknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya dengan perlahan. Kemudian Tumirin kembali berucap, "hmm, ya, hmm kita ini orang kecil, kuncinya ya cuma percaya. Hmm, ya, hmm kalian waktu diajar guru di kelas kan ya percaya dengan apa yang dikatakan biar pun kalian belum atau tidak pernah sama sekali membaca buku yang diajarkan, hmm. Namun tanggung jawab untuk memahami persoalan dasar dan kesadaran untuk berpikir juga harus kalian miliki sebelum menaruh sebuah kepercayaan, hmm. 

       Gander mulai panik, pertahanannya mulai diobrak-abrik perwira-perwira hitam milik Bagas. Konsentrasinya pecah mendengar perkataan Tumirin yang selama ini diketahui sebagai gembel gila yang berkeliaran di kampungnya. 
"Lantas apa yang harus kami lakukan, kang? Apakah kami harus percaya kepada Pemerintah dan DPR yang telah membikin Undang-undang tersebut, atau sebaliknya?" Bagas melempar tanya kepada Tumirin yang sedang menggumam tanpa suara. Sekilas Gander melihat kilatan cahaya di sudut mata Tumirin. 
"Hmm, ya, hmm semua terserah kalian. Mau ke mana kalian menaruh kepercayaan itu. Kalau kalian percaya Undang-undang tersebut bisa membawa kemajuan untuk bangsa ini sebagaimana dibilang orang-orang pemerintah, ya kalian dukung saja. Hmm, ya, hmm kalian tentunya bisa memikirkan ke arah mana Undang-undang ini berpihak, kalau ada keberpihakan tentunya akan ada yang dirugikan. Hmm." Kembali Tumirin manggut-manggut dan meneruskan kalimatnya setelah menghisap kreteknya. 
"Hmm, ya, hmm kalian menolak Undang-undang itu pun boleh-boleh saja, kalau memang kalian percaya Undang-undang tersebut bermasalah, hmm. Ingat, kalian punya hak dan kebebasan menyuarakan pendapat, dan itu dijamin oleh Undang-undang, hmm, ya, hmm. Toh, sebelum Undang-undang tersebut ditetapkan sudah banyak ahli yang membedahnya secara keilmuan dan banyak ahli yang menolaknya, hmm. Hmm, ya, hmm mereka ada yang bilang kalau ini Undang-undang cacat formil, kurang transparan, dan kurang melibatkan masyarakat atau minim aspirasi publik, hmm." Sejenak Tumirin berhenti bicara, ditatapnya Bagas dan Gander bergantian, kemudian dialihkan pandangannya ke ujung jalan sambil menghisap kretek dalam-dalam. 
Di atas papan catur, buah berwarna hitam semakin mengepung buah berwarna putih, jumlahnya semakin tak seimbang. 

       Tumirin kembali berkata dengan pandangannya yang terus saja menatap ke ujung jalan, "hmm, ya, hmm, kalau kalian masih belum bisa menentukan pilihan ke arah mana kalian harus percaya, hmm, tentunya kalian bisa mengembalikan pertanyaan ini ke hati masing-masing, hmm. Siapa saja mereka yang berdiri mendukung Undang-undang tersebut ditetapkan secepatnya, dan siapa saja mereka yang menolak atau meminta revisi sebelum Undang-undang ditetapkan, hmm. Tanyakan, hmm, tanyakan ke hati kalian, siapa yang lebih sering membohongi kalian? Hmm, ya, hmm pasti akan kalian dapatkan ke mana seharusnya hati kalian berpihak, hmm."
"Baiklah, kang. Akan saya pikirkan baik-baik. Skak!" Jawab Bagas sambil menggeser Mentrinya menyudutkan Raja putih. 

       Gander menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikirannya ruwet memikirkan ucapan Tumirin, sementara di atas papan catur Rajanya benar-benar nyaris kehabisan langkah dan tak terselamatkan. 
"Haduh, matek aku. Nyerah aku, Gas. Mulai awal lagi aja. Ruwet ini, ruwet," kata Gander. 
Bagas langsung menata buah catur warna putih di depannya untuk memulai permainan baru sambil berkata, "hahaha, mimpi kamu, Nder bisa ngalahin aku. Ayo, yang serius mikirnya, hahaha."
Gander mulai menyusun buah catur warna hitam untuk permainan selanjutnya, hatinya sedikit kesal mendengar ledekan Bagas, apalagi dari kemarin memang Gander sama sekali tak mampu mengalahkan Bagas, untuk remis sekali pun. 
Saat seluruh buah catur tersusun sempurna di atas papan, tiba-tiba "brakk!" Tumirin menggebrak papan catur itu hingga buah-buah catur berserakan, sambil berteriak kencang, "MASA DEPAN DI TANGAN KALIAN!"
Tumirin berbalik meninggalkan Pos Kamling, berjalan pelan-pelan sambil menikmati kreteknya dalam-dalam. 
Bagas dan Gander melompat kaget bersamaan, tak mengira Tumirin melakukan itu semua. Masih berdiri di dalam Pos Kamling mereka menatap punggung Tumirin hingga ke ujung jalan. 
"Jangkrik, kaget aku, Gas," maki Gander. 
"Bah, kamu pikir aku nggak kaget, padahal Tumirin udah anteng tadi. Tumirin edan!" ganti Bagas yang memaki. 
"Eh, tapi sebenernya Tumirin itu gila apa nggak, Gas? Omongannya tadi kok bisa gitu ya?" 
"Hasmbuh, Nder, bapakku pernah cerita kalau Tumirin itu dulunya pentolan demonstran tahun 98. Konon, Tumirin pernah kena culik, sepuluh tahun lalu dia datang ke kampung kita ini ya udah gitu keadaannya, dekil, bau, rambut gimbal, sering bergumam tanpa suara dan sesekali ngamuk. Udahlah, nggak usah mikirin Tumirin, ini permainan lanjut apa kamu nyerah aja?" jawab Bagas sambil memunguti buah-buah catur yang berserakan kena gebrak tangan Tumirin. 

Juni 30, 2020

Iklan Facebook

Selasa, Juni 30, 2020 0
Iklan Facebook

       Wuooooh, di mari lagi rame ngebincangin iklan di Facebook. Banyak yang bilang iklan di Facebook itu aneh dan bikin serem. Saat pada lagi butuh sesuatu tiba-tiba nongol iklannya di Facebook, padahal mereka itu enggak pada nyari di kolom pencarian sama sekali. 

       Ada yang cerita kalau SIMnya udah mau habis masa berlakunya, baru mikirin buat perpanjangan SIM, eeeh muncul iklan jasa layanan perpanjangan SIM di Facebook. 

       Terus ada yang cerita di kolom komentar, dia ngobrol sama anaknya yang lagi pengen hamster, lha, muncul pula itu iklan jualan hamster di Facebooknya. 

       Banyak kali pengguna Facebook yang ngomongin keanehan iklan di Facebook ini. Ada yang beranggapan ini adalah kerjaan Jin yang dipiara Facebook buat ngertiin apa yang sedang diinginkan penggunanya. Ada pula yang dengan serius membahas ini adalah cara kerja algoritma. Terserahlah, suka-suka mereka dengan apa yang dipercayainya. 

       Dari banyak hal yang saya baca tersebut, kok, saya enggak mengalaminya, ya? Saya nggak pernah lihat iklan tentang sesuatu yang sangat saya ingini. Apa mungkin Jin atau algoritma Facebook tidak berlaku untuk saya? 

       Setelah sarapan secukupnya, ternyata saya menyadari sesuatu tentang iklan yang tidak muncul di Facebook saya. 

       "Jiangkriiiikkkkk"

       Jebul Fecebook weruh yen aku ora duwe duwit....!