Coretan Awanbyru: pijar jiwa
Tampilkan postingan dengan label pijar jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pijar jiwa. Tampilkan semua postingan

September 21, 2025

Serat Antaboga

Minggu, September 21, 2025 0
Serat Antaboga
Ratu linuwih mung wening ati sejati,  
tan tanpa daya,  
yen lali marang titahu,  
Antaboga mangan makuto ilang tahta.  

Swara sesanti ngliwati langit suwung,  
ora geguyon ana,  
yen titah dilarani ku,  
sapa nglanggar kasirna sirna tan kuasa.  

Ratu tan welas kothong dampar kang suci,  
wayang tanpa dalang,  
tanpa nyawa kang nyawiji,  
pangrebut kuasa tiba dadi reregeta.  

Naga ngidham getih nyusup jero bumi,  
ngenteni tumiba,  
ratu lali pangayomu,  
makuto dilepeh dadi rereged donya.  

Titah ngendika lumantar angin suci,  
kawulo manembah,  
sapa ngiyanati iku,  
sirna kadya mega kapethuk surya purna.  

Makuto wus wuda ora kagungan drajat,  
tanpa panguwasa,  
yen dhasar ora linuwih,  
mung dadi guyonan sang kala tanpa rasa.  

Aruming jagad bali marang kawicaksanan,  
titah dadi saksi,  
yen sapa lali janji nu,  
Antaboga rawuh nguntal tanpa pamrih murni.  





September 14, 2025

Jamuan Kubisme

Minggu, September 14, 2025 0
Jamuan Kubisme


Mereka mengunyah
fragmen tubuh sesama,
lampu pun ketawa.

Laut ungu retak,
bulan sabit jadi piring,
angin menyalak.

Gelas tanpa isi,
menyimpan gema doa asing,
dada pun pecah.

Di ujung bukit,
jamuan terus berlangsung,
hingga fajar hilang.

Mei 17, 2025

Mesin Warna

Sabtu, Mei 17, 2025 0
Mesin Warna
Mereka lahir dari geometri yang tak mengerti,
tubuhnya lentur di antara tepi-tepi tajam.
Dunia memberi warna, tapi bukan makna,
hanya kotak-kotak tak seimbang yang terus berganti wajah.

Mereka diam—bukan karena tak ingin bicara,
tapi karena suara pun tak tahu harus ke mana.
Di dunia yang dibangun dari logika dan warna,
seorang perempuan menari di atas beban yang ia tak pilih.
Tubuhnya lentur, tapi punggungnya remuk oleh sistem yang kubik.
Di atasnya, seorang anak hanya berdiri. Tidak membantu. Tidak bicara.
Ia menatap tembok retak—mungkin mencari jalan keluar.

Tapi dunia tak punya pintu, hanya pusaran yang menelan segalanya.
Di dunia di mana warna ditentukan algoritma,
seorang manusia tumbuh dari kubus—bukan rahim.
Tangannya menjangkau langit yang tak ada,
rambutnya diterbangkan algoritma angin,
dan tubuhnya… tersusun dari harapan patah dan sistem tak peduli.

Ia bukan tahanan. Tapi juga bukan bebas.
Ia—adalah kita.
Aku dulu pilar, yang memikul warna dan luka.
Kini aku percikan —
Retakan geometri tak lagi mengikatku.
Dinding-dinding meledak dalam simfoni.

Kubus yang dulu menindihku, kini kutari.
Lantai yang dulu menghukum, kini kudongakkan sebagai langit.

April 25, 2025

Buku-Buku yang Dijemur, Tawa yang Dibacakan

Jumat, April 25, 2025 0
Buku-Buku yang Dijemur, Tawa yang Dibacakan
Baru sadar ternyata tanggal 23 April kemarin diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Meski telat menyadarinya, secara tidak langsung kami sebenarnya tidak melewatkan perayaannya. Seolah semesta memaksa kami untuk seharian merayakannya—dengan cara kami sendiri, tentunya.

Hari Rabu, 23 April 2025, sejak pagi saya sudah sibuk menjemur puluhan buku anak-anak yang basah dan lembap, sebagian bahkan mulai terserang jamur. Begitulah risikonya bila menyimpan buku dalam kardus, sementara rumah yang ditinggali atapnya selalu bocor dan temboknya lembap terkena rembesan air saat hujan lebat tiba.

Buku-buku itu saya jemur di tepi jalan, tepat di depan gerbang parkiran kos-kosan yang entah kenapa tak pernah dibuka. Saya buka lebar halaman-halaman buku agar kering merata. Sesekali saya mengecek satu per satu, membersihkan noda jamur dengan tisu—proses yang butuh kesabaran dan napas panjang.

Karena tak semua buku bisa dijemur sekaligus, saya harus melakukannya secara berkala. Tak terasa, hingga pukul tiga sore, dua kardus besar buku berhasil saya keringkan. Sementara masih ada dua kardus lagi yang belum sempat tersentuh.

Selama proses menjemur, saya juga harus menjaga Runa, si kecil yang kini semakin aktif merayap ke sana kemari, penasaran dengan barang-barang di sekitarnya. Cara paling efektif untuk membatasi geraknya agar tidak menyusup ke celah-celah sempit adalah dengan menaruh banyak buku di sekelilingnya. Runa selalu tertarik pada buku—senang mengamati gambar, membuka-buka halaman, dan sesekali mencoba menggigit ujung-ujungnya. Belum bisa membaca, tentu, tapi entah kenapa tampak begitu bahagia dikelilingi buku-buku.

Buku-buku yang sudah kering saya pilah-pilah lagi sesuai ukuran dan isinya. Banyak di antaranya merupakan buku berseri atau ensiklopedia anak. Sebagian besar belum cocok dijadikan mainan Runa. Maka saya mulai menyimpannya kembali ke dalam kardus, setelah memastikan tiap halamannya kering dan bersih dari jamur. Tak terasa sudah pukul sepuluh malam, total ada tiga kardus yang saya kemas ulang: dua kecil dan satu besar. Sembari menaruh harapan, semoga buku-buku ini tetap awet dan kelak bisa jadi bekal berarti buat Runa.

Mungkin beginilah cara semesta mengingatkan kami: buku tidak selalu harus dibaca untuk menyampaikan cerita—kadang cukup dijemur di bawah matahari, disambut tawa bayi, dan tetap setia menunggu waktunya dibuka kembali.

#HariBukuSedunia


Agustus 22, 2024

Mabok Tai

Kamis, Agustus 22, 2024 0
Mabok Tai

Hei, Bung! 
Bagaimana mula semua ini terjadi? 

Sederhana, 
dengan membikin semua orang tidak bisa membedakan mana roti dan mana tai. 
Diawali dari orang-orang berpendidikan, 
orang-orang kaya, 
dan mereka yang memiliki banyak pengikut. 

Bikin mereka semua menikmati tai yang tersaji dalam bentuk roti.  
Pelan namun pasti, 
semua orang ikut berebut remah-remah tai. 

Perkara mereka yang sadar tentang tai berbentuk roti, 
biarkan saja, 
mereka akan dimusuhi dan melipir ke tepi. 

Roti-roti terlalu sayang untuk dibagi, 
tai-tai berwujud roti makin terstruktur diproduksi, 
Roti-roti hanya untuk kalangan sendiri, 
di luaran, orang-orang tak sadar dimabok tai. 

Tai tetaplah tai. 
Pada akhirnya kebusukan tai sendiri yang menyadarkan mereka yang mabok tinggi. 
Satu persatu mereka mengerti, 
mana roti mana tai. 

Apakah salah jika mengembalikan sisa tai yang dimiliki? 
Setidaknya biar mereka juga mengerti, 
tai-tai yang mereka produksi lebih busuk dari bau ketek mereka sendiri. 

Februari 24, 2024

Garuda Purana

Sabtu, Februari 24, 2024 0
Garuda Purana
terbakar
jatuh
dikalahkan

ia bangkit
dari serpihan abu
ke dalam wujud baru

kembali menerjang
atas nama perjuangan
untuk kembali menjadi abu
untuk menjadi bangkit lagi


Kudus, 24 Februari 2024







Desember 27, 2023

Satu Kali Selamanya

Rabu, Desember 27, 2023 0
Satu Kali Selamanya

hari ini
hanya bisa aku ingatkan kembali
agar kamu
menjadi apa pun yang kau mau
selain kesedihan

        bila menjadi cahaya
        terangilah
        tumbuhkan kehidupan di sekitar
        dengan sinarmu

bila menjadi gelap
selubungilah
sembunyikan segala aib di sekitar
dengan pekatmu

        engkaulah istriku

cukup sekali mencintaiku
kemudian
terbiasalah selamanya

        jadilah seperti yang kau mau
        selamat menjadi
        selamat ulang tahun

November 14, 2023

Supra Kesayangan Bapak

Selasa, November 14, 2023 2
Supra Kesayangan Bapak
Buat kebanyakan orang, ini hanyalah sebuah Supra. 
Bagi saya adalah pusaka yang harus dengan segenap jiwa untuk dijaga. 

Persetan dengan standar hidup orang lain. 
Saya memilih menjalani hidup dengan cara saya sendiri. 

Selagine isih gelem obah, 
ora usah kuatir ora iso mamah. 

Tanjakan, turunan, jeglongan, gronjalan dan juga tikungan. 
Hanya perlu dilewati tanpa perlu ditakuti. 
Perkara ditikung, dikempot atau diasapi. 
Tak perlu jadi panas hati,
yang membikin hilang arah dan tujuan pasti. 

Biarkan mereka berlalu dengan tawa merendahkan usiamu. 
Buat saya, engkau adalah berkah. 
Semenjak bersama, tak sekalipun kau membuat saya celaka dalam musibah. 

Panjang usia, Supra kesayangan Bapak! 

November 03, 2020

Ceritaku Tentang Lelaki Bisu

Selasa, November 03, 2020 0
Ceritaku Tentang Lelaki Bisu

lelaki itu sebenarnya tidak bisu 
aku mengenalnya sejak lama 
bahkan sebelum lelaki itu tumbuh dewasa 
lelaki bisu itu menemuiku dan membisu 
namun aku mendengar suaranya 
jelas 
karena aku adalah sunyi yang mendengar segala bunyi 

di usia belasan lelaki itu membisu di tengah keluarganya 
suaranya tak pernah terdengar di antara anggota keluarga 
kalau pun terdengar 
suara yang keluar hanyalah kekeliruan bagi yang mendengar 
pendapatnya tidak pernah benar 
lelaki bisu itu tak lagi bersuara 
hidupnya hanya tentang apa yang telah didiktekan 

lelaki bisu itu tak memiliki teman di sekolah 
guru-gurunya tak ada yang mendengar apa yang ia katakan 
lelaki bisu itu juga membisu di sekolah 
tak seorang pun di sekolah yang mendengar teriakannya 
selain aku 
yang telah mengenalnya sejak lama

apakah negara atau perusahaan tempatnya bekerja mampu mendengar apa yang diucapkan lelaki bisu itu? 
tidak 
tidak ada seorang pun yang mendengarnya 
suaranya adalah kesalahan 
pendapatnya adalah kekeliruan 
lelaki itu tetap membisu 
mengerjakan apa yang didiktekan 
dan yang diperintahkan 
hanya kepadaku lelaki bisu itu berbicara 

pernah di suatu masa lelaki bisu itu kembali bersuara 
hanya kepada orang tertentu yang ternyata sanggup untuk mendengarnya 
lelaki bisu itu mulai jarang menjumpaiku 

semua itu tak berlangsung lama 
bagaimana pun suaranya adalah kesalahan 
pendapatnya merupakan kekeliruan 
lelaki itu kembali bisu 
dan kembali berbicara hanya kepadaku 

lelaki bisu itu menjalani sisa hidupnya dengan tersenyum 
tertawa 
dan menangis 
tanpa suara 

Januari 17, 2018

Nawang Wulan Pulang

Rabu, Januari 17, 2018 0
Nawang Wulan Pulang

masuk saja ke dalam pikiranku dan temui jalan buntu yang terhalang poster besar bergambar wajahmu

kibar warna-warni bendera partai tak akan pernah menarik hatiku 
pada kibar selendang yang kucuri saat lengah engkau mandi aku teringat

selendang itu rapi kusimpan 
tertawa aku diam-diam melihatmu mencoba terbang dengan selendang yang kaubeli di pasar malam

bejatku setingkat setan budimu setara bidadari 
mungkin selendang petunjuk tuhan agar engkau kumiliki

....
telah kau temukan lagi selendang itu 
kini warna pelangi lengkap sudah 
satu warna yang kucuri telah kembali 
Nawang Wulan melenting pergi

(2013) 

November 04, 2017

Semua akan Dodolan pada Waktunya

Sabtu, November 04, 2017 0
Semua akan Dodolan pada Waktunya
yang mengaku reformis
dan nasionalis
serta agamais
juga sosialis
dan komunis
serta liberalis
juga humanis
dan pluralis
juga ekstremis
dan anarkis
serta fasis
juga demokrat

ternyata hanya bakul-bakul yang akan dodolan pada waktunya


Temanggung, 01 November 2017


November 01, 2017

Bukan Pwissie apalagi Elegi

Rabu, November 01, 2017 0
Bukan Pwissie apalagi Elegi
salah membalas sms membawa nasibku ditinggal nikah

mabuk darat berhasil menghancurkan keinginanku menikah

haruskah aku terkejut bila kehilangan yang kusayang karena ketiduran

ooo Tuhan jangan lagi Tuhan


Temanggung, 01 November 2017


April 19, 2017

Pergi

Rabu, April 19, 2017 0
Pergi
Tak perlu khawatir
Kalaupun aku berkata pergi
Sesungguhnya aku tak akan pernah benar-benar meninggalkanmu

Sebagaimana sepi yang selalu ada dalam keramaian
Atau juga kosong yang selalu menemani isi

Aku bernafas
Aku bergerak
Biasa-biasa saja




Maret 21, 2017

Dipasung Semen

Selasa, Maret 21, 2017 0
Dipasung Semen
Jantung itu berhenti berdenyut
Dingin
Membatu
D҉I҉P҉A҉S҉U҉N҉G҉ ҉S҉E҉M҉E҉N҉


Februari 19, 2017

[draft] Pesan Untuk Kenang

Minggu, Februari 19, 2017 2
[draft] Pesan Untuk Kenang
Nang,
Kalau kamu jatuh cinta, jangan pernah menyerah berusaha.
Seberat apapun halangannya, yakinlah kamu akan mendapatkannya.

Bergurulah pada Bandung Bondowoso, ikutilah jejak Sangkuriang yang tak pernah berhenti sebelum janjinya terpenuhi.

Teruslah setia menepati janji, meskipun kesetiaanmu pada cinta dikhianati.
Sungguh, kehormatan lelaki lebih abadi daripada luka dan pedih yang akan punah dimampus waktu.

Aku tahu Nang, kamu akan selalu menjaga kehormatan lelaki.
Karena kamu keturunan kaum yang selalu menepati janji.

Kudus, 19 Februari 2017 


Ilustrasi : Pinterest

Februari 11, 2017

Wedang Kobokan

Sabtu, Februari 11, 2017 0
Wedang Kobokan
Seiris jeruk nipis. 

Mengapung bersama air hangat di dalam baskom, 
di dalam gelas, 
atau mengapung bersama hangat seduhan air teh di dalam cangkir. 

Kobokan, 
wedang jeruk, 
lemon tea, 
apa pun sebutannya. 

Karena wadah nama dapat berubah.

Menjadi kobokan tidak membuat seiris jeruk nipis menjadi nista. 

Ia tetap bekerja,
mencuci tangan-tangan kotor berbau amis, 
melarutkan segala minyak, lemak, dan juga daki. 

Menjadi wedang atau kobokan, 
cuma tentang ke wadah mana ia kecemplung. 


Januari 06, 2017

Suatu Sore di Persimpangan

Jumat, Januari 06, 2017 0
Suatu Sore di Persimpangan
Sepeda motor itu melaju tepat di depanku. Kemungkinan penumpangnya adalah satu keluarga. Satu anak duduk di depan, dengan lelaki dewasa memegang setang, di belakangnya ada seorang anak lagi dan paling belakang adalah perempuan dewasa. Keempatnya tak satu pun yang mengenakan helm.

Pandanganku terpaku, tangan kanan perempuan dewasa tersebut memegang makanan dalam bungkus plastik dan tangan kirinya menyuapi mulut lelaki dewasa yang sedang memegang setang dengan satu tangan, dikarenakan tangan kirinya sibuk menahan polah bocah yang duduk di jok paling depan.

Luar biasa, hal semacam ini semakin sering aku temui di jalan raya. Sepertinya manusia semakin tergesa hingga abai pada keselamatan diri dan keluarganya dan juga tak sempat lagi makan dengan nyaman di rumah. Hingga jalan raya pun kini telah menjadi sebuah ruang makan yang teramat panjang.

Aku teringat kepadamu, yang selalu mengingatkanku agar tidak makan minum dengan tangan kiri. Beruntungnya diriku memilikimu.
Duh Gusti, jauhkan keluarga kami dari ketiadaan adab dalam perilaku kami sehari-hari.



Desember 31, 2016

Aku dan Kamu: Cuma Soal Waktu

Sabtu, Desember 31, 2016 0
Aku dan Kamu: Cuma Soal Waktu
Tik tak tik tak.
Saatnya menyamakan detik.
Selaras melangkah dalam detak.

Cuma soal waktu.

Pisah-jumpa dilalui ratusan kali.
Penantian adalah jeda di sela keduanya.
Sementara rindu selalu tabah menunggu.

Cuma soal waktu.

Aku yang ada di tiap hembus nafasmu.
Kamu selalu bersama udara yang kuhela.

Dua menjadi satu.
Satu-satu yang tak mendua.

Cuma soal waktu.

Wajahmu yang pualam tersimpan dalam kenangan, serupa puisi.
Juga aku, yang selalu engkau letakkan di tempat bertemunya segala doa.

Aku dan juga kamu.
Dalam satu putaran waktu.


Oktober 24, 2016

[draft] Pesan Untuk Genduk

Senin, Oktober 24, 2016 0
[draft]  Pesan Untuk Genduk
Nduk...
Kalau kamu tidak suka dengan lelaki yang mendekatimu baiknya langsung kamu tolak saja.

Jangan meniru Jonggrang, jangan seperti Sumbi yang mensyaratkan ini itu tapi berpaling di saat semua hampir terpenuhi.

Luka oleh penolakan tidak akan sedalam luka penghianatan.
Seperti Tangkuban Perahu atau Prambanan, kepedihan itu akan diceritakan berulang-ulang.

Aku tahu kamu tidak akan seperti itu Nduk.
Karena kamu bukan keturunan kaum yang gemar berpura-pura.

Kudus, 22 Oktober 2015


Ilustrasi : Snezhana Soosh

Oktober 22, 2016

Pacar Tiri

Sabtu, Oktober 22, 2016 2
Pacar Tiri
Malam ini seorang teman meminta bantuanku untuk menjadi pacar angkatnya. Yang mana itu artinya aku jadi punya seorang pacar tiri.

Yaaah... Semoga kejamnya pacar tiri tak sekejam ibukota.


Kudus, 19 Oktober 2016